Jagung

1. PERSIAPAN TANAM

Jagung hibrida menghendaki kondisi tanah yan gembur, subur, dan bebas dari gulma. Pengolahan tanah bertujuan agar tanah menjadi gembur, tidak tergenang air bebas dari gulma pesaing dan tidak terlindungi dari sinar matahari. Persiapan lahan untuk jagung dapat dilakukan dengan dua cara

a. Olah Tanah Sempurna (OTS)

Tanah di bajak atau dicangkul sedalam 15-25 cm dilakukan dua kali kemudian pemukaan lahan digaru sampai rata, setelah itu lahan siap di Tanami. Pada saa pengolahan tanah hendaknya kondisi tanah tidak terlalu basah dan tidak terlalu kerking sehingga mudah dikerjakan tidak terlalu lengket dan mudah digemburkan. Olah tanah sempuna biasanya dilkukan pada tanah bertekstur berat, sedangkan pada tanah yang bertekstur ringan dan berpasir tidak banyak diperlukan pengolahan tanah.

b. Tanpa Olah Tanah (TOT)

Tanah diseprot dengan herbisida kemudian di biarkan selama 1 minggu, kemudian di Tanami benih jagung. Cara TOT lain adalah tanah langsung ditanami tanpa adanya persiapan lahan, tetapi hanya dibuatkan lajur tanam pada barisan yang akan ditanami. Pemberantasan pada gulma dilakukan sebelum benih tumbuh.

2. PENANAMAN

Tiga komponen yang harus diperhatikan dalam penanaman sebagai syarat untuk menghasilkan panen yang tinggi, yaitu:

a. Waktu Tanam

Waktu tanam yang tepat akan mengurangi kegagalan panen dalam kaitannya ketersedian air, serangan hama penyakit dan ketersedian unsur hara.

b. Kedalaman Lubang Tanam

Kedalaman lubang tanam harus diperhatikan agar pertumbuhan tanaman tidak terhambat dan tidak mudah roboh. Lubang tanam dibuat dengan tugal dengan ke dalaman 3-5 cm tergantung kelembapan tanah. apabila tanah cukup lembab kedalaman cukup 3 cm.

c. Jarak Tanam

Dalam kegiatan ini dipersiapkan tambang plastik yang telah diberi jarak 20 cm dalam barisan tanaman, dan antar barisan dibuat ajir sepanjang 75 cm. kemudian lubang yang telah siap diberikan benih 2 biji per lubang hal ini untuk menghindari penyulaman kerena akan membuat tanaman tidak seragam dan akan mempersulit detaselling, kemudian juga dibei furadan sebelum ditutup pupuk dasar langsung dapat diberikan atau ketika tanaman sudah tumbuh. Dalam pelaksanaannya dilapangan akan dihasilkan tanaman jantan dan tanaman betina, hasil dari tanaman betina inilah yang akan dijadikan benih hibrida, yang kemudian akan diperbanyak oleh petani.

Dalam penanamannya tidak berbarengan tetapi dibuat pola untuk baris pertama ditanami tanaman jantan 2 ST (hari sebelum tanam) kemudian dua baris berikutnya tanaman betina 0 HT (hari tanam) dan baris berikutnya 4 HST (hari setelah tanam). Jarak yang digunakan 40 cm antara tanaman jantan dan betina, sedangkan 70 cm untuk tanaman antar betina.

3. PEMELIHARAAN TANAMAN

a. Penyiangan

Adanya gulma kan menurunkan jumlah dan kualitas panen jagung karena gulma akan bersaing dalam hal air, hara, dan udara. Penyiangan dilakukan satu sampai tiga kali dalam satu siklus pertanaman jagung. Pada tanah yang diolah secara sempuran biasanya penyiangan pertama dilakukan pada umur 15 hari, sedangkan pada TOT dilakukan pada umur 21 hari (3 minggu) atau mempertimbangkann kondisi gulma yang ada penyiangan kedua dan ketiga dilihat dari kondisi gulma yang ada kondisi tanaman pada umur 4-6 minggu, penyiangan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, penyiangan secara manual dan dengan cara kimiawi menggunakan herbisida.

b. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan mempertimbangkan kesuburan dan jenis tanah setempat, pemupukan dilakukan dengan cara, membuat lubang dengan tugal pada sebelah kiri dan kanan tanaman dengan jarak 7 cm dan kedalaman lubang 10 cm, setelah dimasukann pupuk lubang ditutup kembali menggunakan tanah. Pemupukan kedua dan ketiga dilakukan sama dengan yang pertama namun jaraknya dari lubang benih 15 cm. pemupukan menggunakan Sp-36, Kcl dan Za diberikan sekaligus pada waktu tanam dan pupuk urea diberikan 2 kali atau 3 kali. Pemupukan kedua pada umur 3 mingggu setelah tanam dan atau 6 minggu setelah tanam. Pemberian tiga kali di utamakan daerah-daerah miskin unsur hara dan daerah berpasir

c. Pengairan

Untuk hasil yang optimal tanaman jagung membutuhkan kebutuhan air yang merata, kebutuhan air terutama untuk berkecambah, pucuk petumbuhan vegetatif, pembungaan dan pengisisan biji. Pengairan di musim kemarau dilakukan selang 2 minggu dengan cara membuat saluran-saluran kecil diantara barisan tanaman atau dua barisan tanaman jagung

d. Pengendalian hama penyakit

Mengetahui jenis dan gejala serangan hama beserta penyakit akan sangat membantu dalam program pengendaliannya dan keberhasilan dalam bertanam jagung hibrida. Hama penyakit yang menyerang tanaman jagung beserta pengendaliannya berdasarkan sistem PHT (pengendalian hama terpadu).

4. POLINASI

A. Kastrasi/Detasseling

Kegiatan pembuangan atau pencabutan bunga pada tanaman betina, dilakukan ketika bunga mula terlihat, hal ini dilakukan agar benang sari tidak menyerbuki putik. Untuk, mendapatkan benih penyerbukan akan dilaksanakan oleh tanaman jantan.

B. Isolasi

Tanaman jagung harus terpisah dari pertanaman varietas lainnya dengan jarak paling dekat 200m, isolasi jarak tersebut dapat diperpendek apabila penangkaran benih terus bertambah, dengan cara menanam induk jantan pada tanaman yang berbatasan dengan blok liannya. Apabila dua verietas blok yang berdampingan dan akan menghasilkan jagung hibrida yang berlainan maka tinggal diatur sedemikian rupa sehingga pada saat berbunganya berbeda kurang lebih 1 bulan agar tidak tejadi persilangan.

5. PANEN

Panen dan pasca panen tanaman memiliki ciri-ciri siap kelobot berwarna kuning, biji sudah tua dan berwarna mengkilap pada buturan jagung sudah terbentuk jaringan tetutup berwarna hitam, dan bila biji jagung tersebut ditekan dengan kuku tangan maka pada bagian jagung tidak akan membekas, pada kondisi ini perkiraan kandungan air sudah 35%. Setelah dipanen jagung agar dibuka agar kadar air tongkol menurun sehingga terhindar dari serangan jamur, pengeringan tongkol hingga kadar air 17-20% hingga mudah dipipil dan segera di jemur hingga kadar air 15 %.

1. Ciri Umur Panen

Tanda – tanda visual yang dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa jagung sudah dapat dipanen, yang biasa disebut dengan tingkat kematangan optimal antara lain :

  • Ø Biji nampak kering dan mengkilat
  • Ø Apabila biji ditusuk dengan kuku, tidak nampak bekasnya
  • Ø klobotnya telah menguning.

Tujuan dan pentingnya penetapan waktu panen, antara lain :

a. Meminimalisir risiko penundaan panen akibat musim hujan

b. Menangkal/menghambat tumbuhnya cendawan pada tongkol

c. Menangkal serangan hama pada biji dan ulat pada tongkol

d. Meminimalisir kehilangan saat pemipilan

e. Meminimalisir penyusutan di lapangan, dan sebagainya.

Dua hal yang mempengaruh waktu panen jagung yaitu derajat masak dan iklim/cuaca. Derajat masak waktu panen merupakan aktivitas yang paling baik untuk memanen jagung kebalikannya adalah kondisi kurang masak maupun pemanenan yang terlambat. Sedangkan cuaca yang cerah (panas terik) merupakan saat panen yang baik kebalikan pada cuaca buruk (hujan), panen tidak dapat dilaksanakan, terlebih lagi apabila jagung akan dipetik bersama-sama dengan klobotnya.

2. Cara Memanen Jagung

Terdapat 2 (dua) cara pemanenan jagung yang dapat dilakukan oleh petani dari cara yang praktis maupun yang kurang praktis :

a. Pemanenan bentuk tongkol tanpa klobot, merupakan pemenenan yang secara umum paling banyak dikerjakan para petani dengan cara memotong tangkai tongkol dari batang dengan menggunakan tangan secara langsung ataupun kadang kadang dilakukan dengan memotong batang tanaman . Cara memotong tangkai tongkol dari batang dengan menggunakan tangan ternyata efisien dan lebih praktis, mengingat biaya dan pemakaian tenaga yang dikeluarkan lebih sedikit serta memakan waktu yang tidak terlalu lama.

b. Pemanenan bentuk tongkol dengan klobot, merupakan cara pemanenan yang oleh para petani untuk sementara ini dianggap kurang praktis. Melalui cara memanen jagung ini biasanya akan tersisa daun dan batang yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia.

3. Pemipilan

Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil. Pemipilan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan alat pemipilan bila jumlah produksi cukup besar. Pada dasarnya memipil jagung adalah memisahkan antara biji dan tongkol. Terdapat beberapa cara pemipilan yang biasa dilakukan antara lain :

A . Pemipilan secara tradisional, dengan menggunakan tangan.

Pemipilan menggunakan tangan ini menyebabkan tidak adanya biji yang tertinggal dalam tongkol dan dapat menghasilkan jagung pipil tanpa cacat.

B. Pemipilan dengan cara penumbukan, dengan cara

penumbukan ini memiliki kapasitas yang lebih besar dari cara pertama seperti tersebut di atas, namun dengan suatu syarat bahwa jagung yang akan ditumbuk dalam kondisi kering. Dengan cara ini biasanya tidak semua jagung dapat terpipil habis bahkan sering dijumpai biji jagung pipil yang pecah atau rusak.

C. Pemipilan dengan menggunakan alat pemipil dari kayu berbentuk semanggi.

Alat ini cukup efektif memipil jagung secara manual. Diameter lubang pada alat pemipil ini disesuaikan dan dibuat sama dengan diameter jagung tongkol. Tongkol jagung tanpa klobot yang akan dipipil, diusahakan melewati lubang berbentuk semanggi seraya diputar kekiri dan kekanan.

D.Pemipilan dengan menggunakan alat pemipil tipe sepeda atau tipe pedal, dilakukan pada pemipilan jagung dalam jumlah yang relatif cukup besar.

E. Pemipilan dengan menggunakan mesin pemipil tipe silinder atau tipe pegas.

a. Mesin pemipil tipe silinder mempunyai kapasitas dan ukuran yang bermacam-macam, mulai dari ukuran portable (kecil) sampai dengan ukuran stasioner (besar).

b. Sedangkan mesin pemipil tipe pegas juga memiliki berbagai kapasitas dan ukuran. Dirancang satu atau dua lubang (yang dapat digerakkan dengan tangan maupun dengan motor); adapun yang dirakit berukuran empat atau enam lubang (khusus digerakkan dengan motor dan tidak bisa digerakkan dengan tangan).

c. Pemipilan dengan menggunakan alat mesin yang disebut corn sheller dengan kapasitas jauh lebih besar Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil. Pemipilan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan alat pemipil bila jumlah produksi cukup besar. Pada dasarnya memipil jagung adalah memisahkan antara biji dan tongkol. Terdapat beberapa cara pemipilan yang biasa dilakukan antara lain :

1. Pemipilan secara tradisional, dengan menggunakan tangan.

Pemipilan menggunakan tangan ini menyebabkan tidak adanya biji yang tertinggal dalam tongkol dan dapat menghasilkan jagung pipil tanpa cacat.

2. Pemipilan dengan cara penumbukan, dengan cara

penumbukan ini memiliki kapasitas yang lebih besar dari cara pertama seperti tersebut di atas, namun dengan suatu syarat bahwa jagung yang akan ditumbuk dalam kondisi kering. Dengan cara ini biasanya tidak semua jagung dapat terpipil habis bahkan sering dijumpai biji jagung pipil yang pecah atau rusak.

3. Pemipilan dengan menggunakan alat pemipil dari kayu berbentuk semanggi. Alat ini cukup efektif memipil jagung secara manual. Diameter lubang pada alat pemipil ini disesuaikan dan dibuat sama dengan diameter jagung tongkol. Tongkol jagung tanpa klobot yang akan dipipil, diusahakan melewati lubang berbentuk semanggi seraya diputar kekiri dan kekanan.

4. Pemipilan dengan menggunakan alat pemipil tipe sepeda atau tipe pedal, dilakukan pada pemipilan jagung dalam jumlah yang relatif cukup besar.

5. Pemipilan dengan menggunakan mesin pemipil tipe silinder atau tipe pegas.

a. Mesin pemipil tipe silinder mempunyai kapasitas dan ukuran yang bermacam-macam, mulai dari ukuran portable (kecil) sampai dengan ukuran stasioner (besar).

b. Sedangkan mesin pemipil tipe pegas juga memiliki berbagai kapasitas dan ukuran. Dirancang satu atau dua lubang (yang dapat digerakkan dengan tangan maupun dengan motor); adapun yang dirakit berukuran empat atau enam lubang (khusus digerakkan dengan motor dan tidak bisa digerakkan dengan tangan).

c. Pemipilan dengan menggunakan alat mesin yang disebut corn sheller dengan kapasitas jauh lebih besar

6. DRYING

Pengeringan jagung adalah kegiatan yang sangat penting. Pengeringan jagung dapat dilakukan, dalam bentuk tongkol berkelobot, tongkol tanpa klobot dan pipilan.

a. Pengeringan jagung tongkol tanpa klobot Cara ini banyak dilakukan karena mudah pelaksanaannya dan tidak diperlukan sarana khusus selama penjemuran disamping meminimalisir penyusutan bobot karena tercecer/kehilangan, sehingga petani menganggap cara ini cukup praktis, namun cara ini membutuhkan waktu yang lebih lama dan ruangan yang lebih besar dibandingkan dengan bentuk lain. Pengeringan cara ini dilakukan sampai kadar air mencapai 18-20%.

b. Pengeringan jagung tongkol berkelobot cara ini merupakan cara yang tidak dianjurkan karena waktu lama dan hasil tidak baik.

c. Pengeringan jagung pipil, pengeringan cara ini dianjurkan dilakukan sampai kadar air mencapai 14%. Adapun cara pengeringan jagung yang dikenal selama ini adalah dengan 2 (dua) cara yaitu pengeringan alami dengan penjemuran, pengeringan buatan dengan menggunakan teknik pengering menggunakan mesin pengering (grain dryer). Pengeringan buatan maupun pengeringan secara alami dengan cara yang salah dapat merusak jagung, sehingga menimbulkan cacat antara lain :

a. Case hardening terjadi karena suhu pengeringan langsung tinggi dan cepat, sehingga bagian luar sudah kering (terlalu kering) sementara bagian dalam masih basah; Akibatnya jagung tidak kering seluruhnya dan bagian dalam membusuk. Apabila case hardening terjadi maka laju pengeringan terhambat karena lapisan luar yang kering menghambat pengeringan bagian dalam.

b. Pengeringan terlalu cepat, terlalu lama atau suhunya terlalu tinggi dapat mengakibatkan keretakan sampai pecah.

c. Apabila lapisan tumpukan jagung yang dikeringkan terlalu tebal akan terjadi water front, misalnya pada pengering kotak tipe batch. Udara pengering (panas) dari bawah kadang-kadang akan menyebabkan lapisan bawah mengering lebih awal sehingga uap airnya mengalir ke atas. Pada kondisi ini gabah bagian atasnya relatif lebih dingin, maka pada suatu lapisan terjadi kondensasi. Adapun garis yang memisahkan lapisan basah dengan lapisan kering disebut water front. Apabila jagung di lapisan atas dirasakan masih terasa basah, sementara itu di bagian bawah sudah kering dan apabila pengeringan ditingkatkan (misalnya suhunya dinaikkan lagi), maka bagian bawah kemungkinan akan gosong sedangkan di bagian atas masih tetap basah. Maka untuk menghindari hal-hal tersebut, sebaiknya lapisan jagung yang dikeringkan tidak terlalu tebal yaitu sekitar 50 cm. Ketebalan yang dikeringkan yang efektif dapat diindikasikan dengan cara meletakan kertas di atas hamparan yang bergerak kalau ada hembusan udara panas.

7. QULITY CONTROL

A.PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN

Jagung pipil yang telah dilakukan pembersihan dan telah digiling, selanjutnya dapat dilakukan pengemasan dengan menggunakan kaleng, drum, karung atau wadah lain. Selanjutnya apabila jagung giling tersebut tidak ingin dikonsumsi secara langsung maka dapat dilakukan kegiatan penyimpanan. Kegiatan penyimpanan dapat dilakukan sebelum jagung itu dipipil, mengingat jagung pipilan yang sudah kering seyogyanya dilakukan penyimpanan di tempat yang bersih dan kering. Adapun gudang tempat penyimpanan jagung pipilan maupun jagung yang telah digiling hendaknya terlebih dahulu dilakukan pembersihan, kalau perlu dilakukan usaha pencegahan terhadap hama bubuk (Calandra oyzae L.). Jangan lupa untuk meletakkan balok-balok kayu yang disusun sedemikian rupa, untuk dipergunakan sebagai alas penyimpanan jagung pipilan maupun jagung yang telah digiling, oleh karena baik jagung pipilan ataupun jagung yang sudah digiling tidak boleh langsung menyentuh/bersinggungan dengan lantai/tanah dan dinding. Agar kondisi jagung tetap terjaga maka kadar air biji jagung hendaknya dipertahankan tidak lebih dari 14%, sebab dalam hal penyimpanan jagung berkadar air tinggi akan merangsang mikroba, yang dapat menaikkan suhu dalam karung yang menyebabkan biji jagung cepat rusak/busuk. Oleh karena itu, untuk mempertahankan kadar air itu kadang-kadang masih dirasa perlu untuk mengadakan kegiatan penjemuran ulang.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mutu jagung antara lain adalah sebagai berikut

1. Umur panen jagung Ditetapkan berdasarkan varietasnya, dimana berdasarkan varietasnya jagung dikelompokkan dalam umur genjah, umur sedang/medium dan umur dalam.

2. Pemanenan jagung yang kedaluwarsa (dengan umur terlalu tua) dapat menyebabkan terjadinya kerusakan karena pengaruh hujan atau panas di lapangan. Sebaliknya jagung yang dipanen dengan kondisi kurang masak akan menghasilkan butir muda yang mudah keriput terutama setelah dikeringkan. Oleh karena itu pemanenen harus memperhatikan derajat masak jagung

3. Pengkelasan mutu (Grading) Grading merupakan usaha mengklasifikasi komoditas jagung berdasarkan standar mutu yang berlaku. Tujuannya adalah untuk mengetahui adanya perbedaan antara acceptibility (tingkat keterterimaan) konsumen terhadap komoditas (jagung disatu pihak, yang perlu dijabarkan dalam suatu standar yang telah disepakati dan dibakukan dilain pihak. Grading dan faktor mutu jagung perlu dipahami terutama untuk menjamin kepastian (mengurangi perselisihan pendapat/mis-understanding), disamping sebagai problem solution dalam hal memberikan keadilan bagi pihak-pihak yang berkompeten.

4. Berbicara masalah grading dan faktor mutu jagung maka jelas diperlukan faktor-faktor penentu mutu. Terdapat 2 (dua) standar faktor penentu mutu yaitu faktor kualitatif dan faktor kuantitatif.

a. Faktor penentu mutu kuantitatif, meliputi berbagai item antara lain sebagai berikut :

  • Ø Hama : banyaknya hama (hidup) yang telah ditemukan dalam sample
  • Ø Kotoran dan benda-benda asing : penelitian terhadap benda-benda yang ada dalam sample seperti butir pecah atau retak, sisa tanaman, batu, tanah dan bijian lain.
  • Ø Kadar air : penelitian terhadap kadar air yang terdapat pada jagung yang dinyatakan dengan persentase, sedang terhadap bobot komoditas jagung berdasarkan

v Butir pecah : butir komoditas jagung sehat yang menjadi pecah selama perlakuan berukuran sama atau lebih besar atau lebih kecil dari 6/10 butir utuh.

v Butir retak : butir-butir komoditas jagung yang menjadi retak selama perlakuan.

v Butir rusak : butir – butir komoditas jagung yang kerusakannya karena berubah warna / bentuk, busuk (berbau tidak disukai), kerusakan ikrobiologis/ biologis, kimiawi, fisis atau enszimatis dan berkecambah.

b. Faktor penentu mutu kualitatif, dalam hal ini ada suatu statemen yang menyatakan sebagai berikut :

  • Ø biji jagung benar-benar harus bebas dari gejala atau tanda-tanda terdapatnya bahan Kimia yang membahayakan, baik secara organoleptis maupun secara visual.
  • Ø biji jagung harus benar – benar bebas dari hama dan penyakit
  • Ø biji jagung harus benar – benar bebas dari bau apek, busuk, atau masam dan bau asing lainnya.

8. PROCESSING

A. PEMBERSIHAN

Tujuan kegiatan pembersihan adalah dalam rangka untuk membersihkan jagung yang telah dipipil dan membuang kotoran seperti sisa janggel, biji yang pecah atau rusak atau hampa dan kotoran tanah. Terdapat 3 (tiga) cara pembersihan kotoran jagung yang dapat dilakukan, yaitu antara lain :

a. Pembersihan secara manual

Pembersihan secara manual yaitu pembersihan dalam jumlah kecil dengan cara mengaduk-aduk atau menampi biji jagung pipilan kemudian dibersihkan dengan sapu lidi.

b. Pembersihan dengan menggunakan ayakan/saringan Ayakan/saringan dalam hal ini berfungsi sebagai alat pembersih dan sortasi. Adapun pembersihan cara ini ternyata mempunyai kapasitas lebih banyak dari pada pembersihan secara manual. Salah satu hal yang mesti harus diperhatikan yaitu kemiringan kerangka saringan/ayakan sebab kecepatan perjalanan butir ditentukan oleh besarnya sudut kemiringan bahan; terlebih lagi unit saringan/ayakan ini bekerja dengan prinsip gerakan eksentrik yang berasal dari mesin penggerak.

c. Pembersihan dengan menggunakan blower Pembersihan dengan menggunakan blower (alat penghembus), yang kegiatannya biasa dilakukan dalam skala besar, dimana dengan alat ini maka bahan-bahan dengan bobot dan berat jenis yang lebih kecil dari jagung dapat ihembus/ditiup dan disortasi dari biji jagung Dalam proses pembersihan ini, kotoran maupun debu yang sudah di sortasi akan dihisap oleh aspirator (alat penghisap). Umumnya pembersih seperti ini di rakit satu kesatuan dengan alat pemipil tipe Tresher serba guna dan Corn Sheller.

B. PENGGILINGAN

Penggilingan jagung ternyata dapat menurunkan sifat kamba (bulky) bahan, yang mempermudah tahapan selanjutnya yaitu pengemasan dan penyimpanan. jagung yang akan dikonsumsi perlu dilakukan penggilingan agar meningkatkan palatability sehingga mampu meningkatkan daya cerna. Peningkatan daya cerna akan memudahkan pencampuran jagung dengan bahan lain dalam proses pembuatan suatu produk. Terdapat 2 (dua) cara penggilingan jagung yang dapat dilakukan :

1. Wet process.

Wet process yaitu penggilingan jagung yang dilakukan dengan cara basah, biasanya dengan menggunakan alat sederhana berupa grinder yaitu berupa batu giling atau lumpang yang dioperasikan dengan menggunakan tenaga manusia. Biasanya kualitas giling maupun rendemennya rendah karena sortasi hasil samping dan kotoran yang kurang sempurna penanganannya.

2. Dry Process

Dry process yaitu penggilingan jagung yang dilakukan dengan cara kering. Penggilingan jagung cara kering ini memberikan output yang relatif lebih baik apabila dibandingkan dengan cara wet process; Produk jagung gilinganya bisa langsung disimpan tanpa harus melewati proses pengeringan, untuk itu tentunya jagung yang akan dilakukan penggilingan dalam kondisi cukup kering (dengan kadar air 14%). Alternatif pemilihan jenis mesin giling perlu mendapatkan perhatian khusus yang tentunya didasarkan pada jenis dan manfaat jagung giling yang diinginkan.

v Jenis “Roll Mill” dan “Buhr Mill” dipergunakan untuk menggiling jagung untuk kemudian dijadikan sebagai tepung jagung yang halus dan seragam.

v Jenis “Hammer Mill” biasanya digunakan untuk menggiling jagung yang kelak diperlukan sebagai pakan ternak.

C. SAMPLE SEED

Selain melakakan prosesing juga melakukan kegiatan pengambilan sampel benih untuk dilakukan pengujian, umumnya pengambilan sampel tersebut untuk uji daya kecambah (germination) dan uji kadar air (moisture) kecuali ada permintaan uji khusus untuk varietas-varietas tertentu. Pengambilan sampel dilakukan pada saat proses pengolahan berlangsung.

D. PURITY TEST

Purity seed adalah satu bentuk pengujian untuk mengetahui tingkat kemurnian suatu benih apakah tercampur dengan varietas lain atau tidak , parameter yang digunakan adalah secara fisik yang meliputi keseragaman bentuk, ukuran, bobot, dan tekstur dari permukaan benih tersebut. Untuk benih hybrid jika benih ternyata yang dihasilkan mempunyai warna atau tekstur yang ternyata kurang bagus, misalnya warna yang kusam maka akan dilakukan sortasi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: